.

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi: Penemu Penyakit Cacar

Written By Heru Satria on Minggu, 27 Mei 2012 | 05.31


Cita-citanya menjadi musisi kandas. Matanya yang cacat akibat berbagai eksperimen menjadi jalan baginya menjadi seorang dokter terkemuka.
WIKIMEDIA
Gambaran Al-Razi oleh pelukis Eropa
Setiap orang pasti akan terserang penyakit cacar, minimal sekali dalam hidupnya. Tapi, tahukah Anda jika orang yang pertama kali mendefinisikan penyakit cacar adalah seorang muslim? Ia adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi, pria kelahiran Ravy, Teheran, Iran pada 251 H/865 M.
Ar-Razi yang saat itu bekerja sebagai dokter utama di rumah sakit di Baghdad, menjelaskan, "Cacar terjadi ketika darah 'mendidih' dan terinfeksi, di mana kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada wine. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi."
Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britannica (1911) yang menulis: "Pernyataan pertama yang paling akurat dan terpercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes (Razi), di mana dia menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut."
Nama Razi-nya berasal dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran. Ar-Razi dikenal di Barat dengan panggilan Rhazes. Dia salah seorang pakar sains Iran yang sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika, dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.
Saat masih kecil, ar-Razi ingin menjadi penyanyi atau musisi. Namun, dia kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi (kimia). Pada usia 30 tahun, dia memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi karena berbagai eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. Ia lalu mencari dokter untuk menyembuhkan matanya. Dari sinilah ar-Razi mulai mempelajari ilmu kedokteran.
Gurunya adalah Ali ibnu Sahal at-Tabari, seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang Yahudi yang kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi pegawai kerajaan di bawah kekuasaan khalifah Abbasiyah, al-Mu'tashim.
Razi kembali ke kampung halamannya dan terkenal sebagai seorang dokter di sana. Kemudian dia menjadi kepala Rumah Sakit di Rayy pada masa kekuasaan Mansur ibnu Ishaq, penguasa Samania. Ar-Razi juga menulis at-Tibb al-Mansur yang khusus dipersembahkan untuk Mansur ibnu Ishaq. Beberapa tahun kemudian, ar-Razi pindah ke Baghdad pada masa kekuasaan al-Muktafi dan menjadi kepala sebuah rumah sakit di Baghdad.
Setelah kematian Khalifah al-Muktafi pada tahun 907 M, ar-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy. Di kota ini dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, ar-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.
Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hipokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir ar-Razi dalam buku ini.
Simak penjelasan lanjutan ar-Razi tentang cacar, "Kemunculan cacar ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut bergabung dan terasa gatal di seluruh bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan."
Razi juga dikenal sebagai ilmuwan yang menemukan penyakit "alergi asma". Ia cendekiawan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.
Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ia juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.
Sumbangan penting ar-Razi lainnya adalah etika kedokteran. Dia mengkritik dokter jalanan palsu dan tukang obat yang berkeliling di kota dan desa untuk menjual ramuan. Pada saat yang sama dia juga menyatakan bahwa dokter tidak mungkin mengetahui jawaban atas segala penyakit dan tidak mungkin bisa menyembuhkan semua penyaki, yang secara manusiawi sangatlah tidak mungkin.
Ia kemudian menyarankan, untuk meningkatkan mutu, para dokter untuk tetap belajar dan terus mencari informasi baru. Dia juga membuat perbedaan antara penyakit yang bisa disembuhkan dan yang tidak bisa disembuhkan. Ar-Razi kemudian menyatakan bahwa seorang dokter tidak bisa disalahkan karena tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker dan kusta yang sangat berat.
Ar-Razi menyatakan bahwa dia merasa kasihan pada dokter yang bekerja di kerajaan, karena biasanya anggota kerajaan tidak mematuhi perintah sang dokter. Tujuan menjadi dokter, katanya, untuk berbuat baik, bahkan sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar.
Selain Cacar dan Campak, buku-buku karya Ar-Razi lainnya adalah: Hidup yang Luhur, Petunjuk Kedokteran untuk Masyarakat Umum, Keraguan pada Galen, dan Penyakit pada Anak. (erwyn)
sumber : esq-news.com

0 komentar:

Poskan Komentar